Ancaman Resesi 2023
Antisipasi
Ancaman Resesi Global Tahun 2023
Virus
Covid-19 yang sudah terjadi 2 tahun belakangan ini membuat menurunnya ekonomi
negara. Akibat dari Covid-19 ini membuat masyarakat banyak kehilangan pekerjaan
dan perusahaan mengalami kebangkrutan. Indonesia masih beruntung memiliki
perekonomian yang cukup stabil dan masih bisa teratasi karena pemerintahan
Indonesia ini tidak mengambil keputusan untuk melakukan lockdown ketika Covid-19
sedang mengalami peningkatan. Tidak adanya lockdown ini mengakibatkan
perekonomian Indonesia masih terus bergerak dan masih ada pemasukan.
Dengan
adanya laporan prediksi IMF (International Monetary Fund) yang dirilis pada
tanggal 11 Oktober 2022 ini menjelaskan bahwa pertumbuhan global yang awalnya
3,2 persen pada tahun 2022 menjadi 2,7 persen pada tahun 2023. Penurunan ini mengakibatkan
dampak yang terbesar untuk perekonomian dan negara yang mengandalkan kegiatan
ekspor.
Menurut
Indra Darmawan selaku Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementrian Investasi
ini menyatakan bahwa, Indonesia tidak terlalu besar merasakan dari resesi ini
karena Indonesia sedikit melakukan kegiatan ekspor. Pernyataan resesi ini hanya
sebagai tanda bahwa kita sebagai masyarakat tetap waspada dengan adanya dampak
yang terjadi dari resesi ini.
Prospek
perekonomian secara global terus menurun akibat eskalasi risiko global seperti
lonjakan inflasi, volatilitas harga komoditas, isu geopolitik, serta potensi
resesi. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih cukup
kuat, didukung konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor.
Selain itu,
secara keseluruhan kinerja APBN cukup baik dan masih mencatatkan surplus
ditopang kinerja fiskal secara holistik, baik dari pendapatan yang tumbuh kuat
maupun optimalisasi belanja yang tetap terjaga. Dengan dukungan kinerja APBN
yang baik tersebut, defisit dapat ditekan sehingga pembiayaan utang juga dapat
dikurangi.
Peran masyarakat dalam membantu penguatan perekonomian dan ketahanan
ekonomi Indonesia sangat diharapkan. Inflasi diikuti oleh kebijakan pengetatan
moneter oleh bank sentral di negara Eropa dan Amerika dengan menaikkan tingkat
bunga acuan yang akan berdampak juga pada kebijakan yang diambil bank sentral
di negara lainnya.
Untuk
mengantisipasi adanya resensi global ini dapat dilakukan dengan beberapa cara
diantaranya:
1) Mengatur
pengeluaran anda
Dampak
yang terjadi pada resensi ini adalah berupa penurunan dari sektor ekonomi,
sehingga masyarakat perlu adanya pengaturan keuangan. Pengaturan keuangan ini
berupa mengurangi dan memperhitungkan keuangan sesuai dengan bidang
masing-masing. Pengurangan pengeluaran ini berupa menahan pembelian barang yang
tidak terlalu penting dengan kebutuhan.
Pembelian
barang ini dapat diganti dengan penjualan. Maka kalian masih bisa melakukan
pembelian tetapi juga masih mendapatkan pemasukan dari penjualan tersebut. Apabila
merasakan kejenuhan dapat melakukan beberapa hal yang kreatif untuk menghilangkan
rasa kejenuhan tersebut.
2) Mendapatkan
pendapatan selain dari gaji tetap
Saat
ini masyarakat masih nyaman dengan adanya gaji tetap. Namun untuk mengatisipasi
adanya resensi ini, masyarakat disarankan untuk mencari pendapatan yang lain
dari gaji tetap tersebut.
Pendapatan
yang lain tersebut dapat berupa pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu adanya
pekerjaan tetap tersebut. Maka pendapatan dari gaji tetap dapat digunakan untuk
pengeluaran pokok, sedangkan pendapatan tambahan dapat digunakan untuk investasi,
dana darurat, dan tabungan
3) Investasi
dan penyiapan dana darurat
Hal lain yang bisa dilakukan adalah siapkan dana darurat.
Idealnya, jumlah dana darurat yang harus disiapkan dapat mencukupi kebutuhan
sebanyak 3-6 bulan.
Di
masa pandemi, jumlah yang dianjurkan adalah sebanyak 6 kali pengeluaran. Dalam
bersiap menuju tahun 2023, para ahli dan konsultan finansial menyarankan untuk
menyiapkan dana darurat sejumlah 12 kali pengeluaran.
Fungsi
dari dana darurat adalah seandainya terjadi pengurangan gaji atau bahkan
pemutusan hubungan kerja, kamu dapat menggunakan dana darurat untuk bertahan
hidup selama 3 hingga 6 bulan ke depan.
Langkah
pertama menyiapkan dana darurat adalah mengecek dan membereskan kesehatan
keuangan. Setelah itu, rencanakan untuk membangun dana darurat secara bertahap.
Persiapan ini bisa dengan cara menyediakan rekening khusus yang mudah diakses
dan cepat proses pencairannya. Seperti tabungan, segera sisihkan dana darurat
setelah gajian. Tidak perlu terpaku dengan jumlah yang bertambah sedikit demi
sedikit. Asalkan konsisten dan fokus, kalian pasti bisa mencapai target dana
darurat yang sudah ditetapkan.
Mengenai investasi yang dilakukan pada
saat ini, di mana situasi tidak menentu, Wayan mengungkapkan bahwa investasi
selama ini terbukti jadi cara yang efektif melawan dampak negatif inflasi.
Pilihan investasi yang cocok untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi
global adalah menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak pada aset
investasi yang tergolong aman. Dalam hal ini, Wayan mencontohkan jenis
investasi yang aman dilakukan yaitu deposito, emas, dan surat berharga yang
diterbitkan oleh negara.
Dari uraian di atas, penulis berkesimpulan
sangat optimis, dengan kerjasama yang baik antara Pemerintah Pusat, Daerah,
pengusaha dan masyarakat, kondisi perekonomian Indonesia mampu menahan laju
inflasi dan melalui badai resesi di tahun 2023. Masyarakat diharapkan tidak
panik untuk menarik dananya di bank-bank, tetap melakukan investasi dalam
negeri guna menyokong produksi komoditas domestik dan ekspor. Selain itu,
menunda membeli barang impor dan mencintai produk domestik dan tidak membeli
mata uang asing secara berlebihan karena akan berdampak meningkatkan inflasi.
Komentar
Posting Komentar